Selasa, 03 Maret 2009

Pada Awalnya Baik


Terlintas di depan saya seorang kaya yang sangat kaya. Rumah indah yang penuh dengan hiasan, lebih mirip galeri daripada sebuah rumah.
Kebun luas nan indah terbentang sejauh 100 meter dari pintu rumah sampai ke gerbang. di belakang terdapat kolam renang yang terbagi 3 bagian, kolam air dingin, kolam air hangat lengkap dengan gelembung udara, dan kolah untuk bar. Di samping kiri ada taman untuk peliharaan yang luasnya lebih dari 2 hektar, disamping kanan ada taman untuk menjamu para tamu yang luasnya tidak kurang dari 1 hektar.
Kendaraan mewah bagaikan kereta kencana berjajar di lantai dasar, bukan satu dua saja mereka miliki, melainkan ada sekitar 6 buah dengan 4 orang supir.
Mereka Suami Istri kaya dan bahagia, merupakan donatur yang tetap di sebuah biara yang memiliki ribuan pengikut. Hampir setiap bulan mereka memberikan sumbangan, dan setiap acara besar mereka menjadi sponsor utama.

Pada awalnya mereka merupakan orang-orang rendah hati dan sopan, kerendahan hati dan kesopanan mereka menjadikan mereka orang terhormat, kedermawanan mereka menjadikan keduanya orang terpandang.... itu dulu.


Belakangan ini mereka banyak dilihat rendah oleh beberapa orang, yang kebetulan orang bijaksana. Dulu mereka dicintai namun sekarang banyak orang yang membenci. Ini disebabkan kesombongan yang muncul akibat pujian yang muncul dari sumbangan yang diberikan.


Dengan berjalannya waktu, mereka berubah, ketika pujian mengalir bagaikan sungai yang lebar, batin mereka terhanyut, terbawa kepada kemerosotan mental mereka. Haus akan pujian. Tidak mampu menerima kritikan, setiap kritikan membawa mereka kepada kebencian dan kemarahan.


Sayang memang namun itulah dunia. Segalanya berubah seperti air menjadi es dikarenakan dinginnya udara. Pada saat air masih berupa air, siapapun tidak mampu memotongnya, namun pada saat air sudah mengeras menjadi es, dengan mudah siapapun dapat memecahkannya.