Minggu, 21 September 2008

Tidak Berkurang



Jaman sekarang dunia semakin panas, global warming katanya. Ini semua diakibatkan sikap manusia yang semakin tidak peduli terhadap dirinya sendiri, tubuh ini butuh bumi sebagai tempat tinggal, butuh hutan untuk paru-paru manusia, butuh matahari sebagai penerang, butuh air sebagai penyokong kehidupan, katanya...
Manusia seperti virus yang merusak tempat ia tinggal sendiri. 'Menghisap' seperti lintah, suatu saat tidak akan menyisakan apapun di dunia ini. Hingga pada akhirnya dunia kering gersang tidak bersisa dan tidak dapat dihuni lagi karena tidak tersedia sumber daya untuk dipakai oleh manusia lagi.

Akan tetapi aku merenung, "benarkah semua itu akan lenyap? bumi kita ini". Aku tahu kalau di bumi ini semuanya bergerak, berubah, sesuai dengan sifatnya masing-masing. Air mengalir menimbulkan gerak, gerak diubah oleh manusia menjadi listrik, listrik diubah menjadi cahaya, cahaya berpendar berubah menjadi panas, panas bersentuhan dengan udara menjadi gerak.
Semuanya apa adanya.

Di bumi ini tidak ada yang berkurang, yang ada hanyalah perubahan. Jika manusia 'menghisap' semua yang tersedia di alam ini, semuanya akan kembali kepada alam. Walaupun bentuknya berubah. Tanaman menghisap saripati dari tanah, manusia memakan tanaman dan menghisap saripati tanaman. Lalu dari manusia keluar sisa-sisa yang tidak terpakai dalam bentuk cairan dan padatan. Saripati yang dipakai manusia pun muncul dan kembali ke alam dalam bentuk gerak dan panas. Semuanya terurai ke bentuk yang paling sederhana, PELEBURAN.

Memang jika manusia secara sembrono dan serakah menggunakan sumber daya ini sembarangan, maka semua yang di bumi ini akan lebih cepat terurai ke dalam bentuk yang tidak bisa digunakan oleh manusia. Akibatnya MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP DI BUMI INI LAGI suatu saat nanti manusia pun akan terurai, dikembalikan ke bumi ini, PELEBURAN.

Di dunia ini tidak bertambah tidak berkurang, semuanya hanya berubah bentuk. Tidak ada yang hilang, tidak ada yang muncul.

Minggu, 20 Juli 2008

Taman Hati


Ada seorang praktisi ZEN yang sangat sayang terhadap tamannya, menurutnya tamannya sangat indah. Beliau merawat tamannya dengan sangat sempurna, setiap saat ia perhatikan dan rawat dengan sangat detail, di setiap titiknya.

Di lain tempat, ada sebuah Biara dengan sebuah taman yang sangat ramai dikunjungi oleh orang banyak. Bukan sedikit orang yang memuji keindahan taman tersebut, ada yang menyebutnya indah, menyejukan, bagus, bahkan menangkan batin.

Sudah lama sang ahli taman ingin melihat taman yang menjadi 'saingannya' tersebut, hanya saja dia khawatir apa bila daun daun yang rontok jatuh tidak pada tempatnya; ia khawatir jika tamannya menjadi tidak sempurna.

Lama kelamaan, akhirnya ia tidak tahan lagi, rasa penasarannya mengalahkan dirinya. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi taman tersebut.

Ia sangat terkejut melihat taman tersebut, menurutnya taman miliknya tidak kalah dibandingkan dengan taman; dan lebih terkejut lagi banyak sekali orang yang berada di taman tersebut. Ada yang berlalu lalang, duduk berduaan, bermain kecapi, bermain catur, membaca buku dan lain sebagainya.

Akan tetapi setiap ia bertanya kepada orang yang ada di sana, mereka kagum terhadap taman tersebut, yang menurutnya sama saja dengan taman miliknya.

Dengan rasa heran ia mencari perawat kebun tersebut, dan menemukan seorang bhiksu tua yang menjadi tukang kebunnya, serta ia bertanya, "Guru mengapa orang menganggap taman ini istimewa? Bagai mana cara guru merawat taman ini, sampai orang terkagum-kagum dengan tempat ini?".

Bhiksu tua itu menjawab, "Cara saya merawat, saya hanya menyapunya, pada saat perlu menyapu, memotong ranting pada saat perlu memotongnya, menyiramnya pada saat pepohonan perlu disiram dan....", "ITU KAN CARA BIASA MERAWAT KEBUN!!???" sela si ahli taman. Lalu bhiksu tua itu melanjutkan jawabannya, "hmmm, Oo ada satu hal penting.... saya hanya diam, mengamati dan tersenyum kepada setiap orang yang masuk, mengganggu dan kadang merusak pepohonan yang ada ditaman".

Sang ahli taman terkesiap, mengucapkan terima kasih dan pergi; tanpa mampu berkata sepatah katapun. Satu hal yang paling ditakuti adalah tamannya menjadi rusak karena orang-orang yang berdatangan.

Minggu, 15 Juni 2008

Kemajuan Batin VS Schizophrenia

88028844_2862eaa12d_oDi tanah Asia Banyak orang menganggap spiritual itu berhubungan dengan spirit (Mahluk Halus) dan ritual (sembahyang). Dalam hal ini juga seringkali menganggap kesaktian sebagai tanda hebatnya batin seseorang.

Tidak mengherankan jika tujuan orang-orangnya dalam bermeditasi mengharapkan terjadi sesuatu selama menjalaninya. Syukur-syukur bisa lihat sesuatu gitu lah...

Akibatnya tidak sedikit orang yang melakukan kegiatan-kegiatan spiritual mengalami hal-hal seperti melihat cahaya (yang dianggap TUHAN atau UTUSANNYA), mahluk halus (HANTU CS), dewa, bahkan Buddha atau sejenisnya, ditambah lagi MEREKA SEMUA bisa bicara menyampaikan sesuatu kepada orang tersebut.... WAHYU...  Serasa jadi NABI, dan tidak bisa lagi tinggal dengan masyarakat....

Menurut Ilmu psikologi ada sejenis penyakit dimana orang mulai berhalusinasi, pada akhirnya tidak bisa membedakan antara hayalan dan kenyataan. Yaitu Schizophrenia dengan gejala yang terlihat: halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.

Dari semua penganut semua agama yang ada bertanya kepada saya, kenapa mau jadi pemuka agama, dapat panggilan yah, atau wahyu.... bingung mau jawab apa, bagi saya mengambil status ini adalah pilihan hidup saya bukan atas dorongan dari atas, apa lagi wahyu...

Setelah saya lama mempelajari Ajaran Yang saya anut dari Guru Besar Pendiri, saya cukup terkejut mengetahui bahwa kemajuan spiritual dalam ajaran kita bukanlah melihat cahaya, mahluk halus, mendengar wahyu dan sebagainya, melainkan ada 16 tahapan, dan tahapan yang paling rendah adalah MAMPU MEMBEDAKAN AKTIFITAS PIKIRAN DAN FISIK.

Dalam hal ini berarti, harus mampu membedakan hayalan dan materi (yang nyata).....bukan bisa melihat, atau mendengar sesuatu.... terkejut? HAHAHAHA, setelah sekian lama riset dengan kotbah Guru, dan tubuh serta batin ini akhirnya tau bahwa ajaran Guru berbeda dengan agama lainnya, walau pengikut yang lainnya tidak bisa menerima kenyataan ini

Sabtu, 31 Mei 2008

Not A Big Head, I just able to do it


Many people think that I am just a big head person, because I talk a lot things, knowledges, musics, arts, cultures, and others that I know a lot.

One day a person asked me about my ability to play solo guitar. He asked me, "How many songs that you can play on your guitar?" I just said that, "I can do all songs, that I know, and all of them I can do it like classical solo guitar". He surprised and said "Whoaaaaaa you must be a master?"
I remembered that time I just smile and "......nope..... I just know 6 songs that I can play on solo guitar, and that's all I can do.... ha.... ha.... ha...."

Senin, 19 Mei 2008

Guitar Solo


its the heart n guitar not the same its just tooo hypoc....

Minggu, 18 Mei 2008

Mahluk Halus


Hidup menjalani latihan sebagai praktisi suatu agama (yang menekankan kehidupan pertapaan) sangatlah sulit, Sahabat-sahabat sesama praktisi yang tinggal di hutan-hutan sungguh beruntung karena tidak akan banyak gangguan dari umat awan, cukup banyak bermeditasi, dapat 'melihat' ke dalam diri lebih sering.
Sekalipun mereka diganggu paling-paling hanya diganggu oleh hewan buas (kebanyakan sudah takut sama manusia, karena manusia sebetulnya lebih buas dari mereka), cuaca atau iklim yang ekstreem atau paling sial diganggu oleh mahluk halus, yang katanya cukup diplototi akan lari sendiri.

Salah seorang dari mereka sewaktu bertemu dengan hewan buas yang mengaum kepadanya, cukup dengan menggeram akhirnya hewan tersebut lari. Ada lagi yang pernah bertemu dengan mahluk halus, tapi cukup diplototi mahluk halus tersebut langsung menghilang.

Aku hidup di 'hutan' beton, dan berteduh di rindangnya asbes. Di sini tidak ada hewan buas, jikalau adapun phanter, kuda atau kijang sekali-sekali melihat 'seekor jaguar' lewat, cukup hanya berhati-hati sewaktu menyebrang agar tidak ditabrak oleh mereka.

Akan tetapi di hutan beton ini ada mahluk halus yang sangat berbahaya, jauh lebih berbahaya dari mahluk halus jenis apapun. mereka bergentayangan bukan di kuburan, maupun tempat angker. Tempat mereka bergentayangan di mall-mall, di cafe-care, bar-bar kadang di diskotik.
Jika Mahluk halus yang di hutan paling bikin kita ketakutan merinding setengah mati. Akan tetapi Mahluk halus yang berada di sini bisa bikin rontok jubah (pakaian yang selalu aku pakai sebagai pertapa konyol), dan bisa berakhir di pernikahan. Mahluk halus ini kasat mata, siapapun bisa melihat, maklum, namanya juga MAHLUK HALUS MULUS. HEHEHEHE

Minggu, 11 Mei 2008


Tiga unsur selalu terlihat dalam diri manusia,
tanpa dipahami ada unsur keempat yang selalu membuatnya berproses
selalu berubah

Berjalan Di Hutan Beton

Hidup sebagai pertapa yang biasanya menyenangi kesunyian, menjadi sangat sulit di kala kesunyian lenyap.
Pada saat hati menyukai suara alam, menjadi bergejolak saat alam mulai lesap ke dalam bisingnya kendaraan.

Aku berjalan di hutan beton, menghadapi hewan buas yang nafasnya menyemburkan keserakahan, bertanduk persaingan, dan berkulitkan sisik ke-egoisan.

Kadang tertunduk lesu kalah dalam pertarungan, antara ego dan aku.
Musuh terbesar dalam kehidupanku sendiri.