Jumat, 21 Mei 2010

Hope this water lily make you at peace

kadang hidup ini indah hanya melihat bunga di hadapan mata

Minggu, 04 April 2010

Dulu dan Sekarang


Di jaman dahulu kala ada seorang wanita muda nan miskin, ketika itu ia bekerja dengan sungguh-sungguh demi mendukung keluarganya yang miskin. Ketika ia memperoleh upah dari kerjanya ia belikan makanan bagi ayah, ibu dan adiknya.
Suatu ketika sekembalinya ia bekerja, ia melihat sebuah vihara yang sedang dalam perbaikan, dan ia tergugah untuk membantu perbaikan vihara tersebut. Walau hanya dengan sekeping uang yang ia peroleh pada hari itu (hanya cukup untuk ia dan keluarganya makan nasi), namun keyakinan dan cinta kasih ia besar sehingga ia danakan semua uangnya yang ia miliki.
Kepala vihara kenal baik dengan gadis itu. Setelah berderma dengan menyumbangkan sekeping uang itu, kepala vihara pun mendekat dan berkata, "anak muda, alangkah baiknya jika engkau limpahkan jasa kepada semua mahluk yang membutuhkan, dengan demikian tidak cuma kamu yang menikmati kebajikanmu". Tergugah dengan perkataan kepala vihara, ia pun menyetujui untuk melakukan upacara pelimpahan jasa.
Dalam upacara tersebut, kepala vihara memanggil semua murid senior dan beliau sendiri memimpin upacara pelimpahan jasa. Sutra dan mantra mengalir dengan indahnya, kebahagiaanpun menyelimuti si gadis itu.

Beberapa bulan kemudian Putra Mahkota kerajaan dimana si gadis tinggal berjalan-jalan melihat-lihat keadaan negri sebagai pembelajaran langsung bagi dirinya (kebetulan single). Tiba-tiba putra mahkota ini memperhatikan si gadis miskin ini, dan kagum akan keuletannya, sebagai tulang punggung keluarga, bahkan baktinya kepada Buddha.
Tak lama kemudian akibat memperhatikan kebajikan dan ketulusan si gadis ini timbullah suka, dari suka timbulah cinta, dan Putra Mahkota kerajaan ini meminang si gadis ini sebagai istri. Si gadis tidak lagi miskin dan ia mampu mengangkat keluarganya dari penderitaan ke dalam keadaan bahagia.

5 tahun kemudian, si gadis ini menjadi permaisuri, ratu bagi kerajaannya, dikarenakan suaminya sang Putra Mahkota naik tahta, menjadi seorang Raja. Si Gadis yang menjadi permaisuri ini tentu saja bahagia. Ketika ia merasa bahagia, ia teringat dahulu tempat vihara yang ia danakan sekeping uang kusam tersebut. Ia pun terinspirasi untuk kembali ke sana dan hendak membawakan dana yang banyak.

Dengan persiapan yang luar biasa ia datang ke vihara tersebut. Uang emas diuntai berbentuk rantai yang panjang melintasi kota, dan dibawa oleh para dayang, ia membayangkan seperti uang yang dulu ia danakan; batangan-batangan emas permata, kain sutra bagi jubah para bhiksu, dan masih banyak lagi... mewah dan megah. Iapun bangga akan pameran persembahannya
Namun ketika kepala vihara melihat hal itu, ia berkata kepada seorang bhikkhu muda, "kamu pimpin, dan ajak beberapa sramanera (calon bhiksu).

Ketika upacara selesai, marahlah sang permaisuri kepada kepala vihara dan berkata, " NADA SUMBANG TELAH TERDENGAR DALAM UPACARA, MENGAPA ANDA TIDAK MEMIMPIN UPACARA SEPERTI DULU? KALI INI SAYA BERDANA LEBIH BANYAK, BAHKAN LAKSAAN KALI LIPAT DIBANDING DULU!!!"
Kepala vihara menjawab dengan tenang, "dahulu kau berdana tidak hanya dengan sekeping uang, tetapi juga dengan ketulusan dan kerendahan hati, juga segenap kehidupanmu. Namun sekarang yang kau lakukan bukanlah berdana, namun memamerkan harta bendamu, jika kamu sadar, maka berubahlah sifat mu".....
itu dulu.... jaman sekarang lain...

Ketika ada umat berdana ke vihara (umat miskin) dan mau melimpahkan jasa. Si bhiksu berkata, "HAH? mao ketemu kepala vihara? mao pelimpahan jasa? gak usah repot repot deh, udah pake tekad juga manjur kok... yang penting khan niat. udah sana!! kepala viharanya sibuk gak ada waktu" dan si umatpun pergi..

Ketika diperjalanan si umat melihat di trotoar ada selembar kupon (kupon lotre singapura) dan memungutnya, ternyata itu adalah kupon pemenang hari itu (ini Tangerang Bung hehehehe). Beruntung ia memperoleh hadiah puluhan juta. Dengan uang itu ia bangun kembali bisnisnya dan dalam 10 tahun ia menjadi orang sukses.
Suatu hari... Ia ingat bahwa kebahagiaan yang ia peroleh sekarang diawali dengan dana ke vihara dan menemukan keberuntungannya pada hari yang sama. Karena muncul rasa bersyukur, ia pun bertekad untuk berdana ke vihara yang sama. Dulu ia cuma sanggup memberi 10ribu rupiah... sekarang ia hendak mendanakan satu gedung beserta perlengkapannya (pokoke tajir abieeess).

Ia pun datang ke vihara yang sama 10 tahun lalu. Bedanya dulu pakai BECAK sekarang pakai BMW... sport lagi... plus beberapa pengawal pribadinya duluan dengan mobil yg berbeda...
Seketika itu juga bhiksu (yang sama) datang menyambut dan menyapa, "AMITOFOOOO... Apakabarnya bapak? bagaimana sehat? mau ketemu kepala vihara? Bapak beruntung, kepala vihara memang sedang menunggu-nunggu anda.."
Iapun bertemu dengan kepala vihara dan berkata, "saya hendak limpahkan jasa kebajikan saya ini untuk keluarga, leluhur dan semua mahluk, bisa bantu untuk upacaranya?"
"OOO jangan khawatir, saya sendiri yang akan memimpin upacaranya beserta bhiksu-bhiksu senior.." kata kepala vihara....
Dan upacarapun berjalan dengan pembacaan sutra, mantra yang sangat indah....



"kenapa Suhu gak mau mimpin upacara waktu saya dulu berdana? sekarang Suhu sendiri yang mimpin" tanya orang tersebut.
"OoO dulu kebajikan kamu kecil dan sedikit, tidak membawa kebahagiaan bagi banyak orang, sekarang kebajikan kamu besar, mampu membawa kebahagiaan bagi banyak orang" demikianlah kepala vihara dan bhiksu tersebut menjawab
this is real worl my friend

Jumat, 19 Februari 2010

Jumat, 12 Februari 2010

Buddhism


sejak benar-benar mengaku sebagai pengikut Buddha, saya suka dan senang sekali memperhatikan para pengikut yang lain. Terutama sekali adalah para guru yang mengajarkan ajaran Buddha dan juga para murid-murid sekolah yang mati-matian berusaha mendapatkan nilai baik dari pelajaran agama Buddha di sekolahnya.

Tidak sedikit keluhan yang didengar mengenai pembelajaran yang diterima di sekolah, maupun sikap dari para guru, tokoh, dan pengurus organisasi yang mewakili agama Buddha.

Mulai keluhan murid yang harus menghapal bahasa yang sama sekali tidak dimengerti (pali, sanskrit, kadang china) sampai orang tua yang bingung dengan bagaimana mengajarkan bahasa yang mereka sendiri tidak mengerti, juga dengan pihak organisasi yang sepertinya tidak peduli dengan anak2 mereka.

Juga ada lagi keluhan mengenai sikap organisasi yang terlalu pasif, kadang sangat aktif, kadang tidak jelas aturan mainnya.

Yang menarik bagi saya adalah mengenai pengajar agama Buddha dengan sikap mereka dan materi yang diajarkan, beberapa bahkan memiliki sikap2 yang sebetulnya tidak pantas dikatakan sebagai guru agama. Ada lagi adalah kriteria keberhasilan atau tingkat kesuksesan seorang siswa di sekolah. Sampai sekarang kriterianya adalah mampu atau tidaknya menghapal bahasa dan istilah-istilah asing (pali, sanskrit dan kadang china).

Efek samping dari situasi tersebut adalah sering kali seorang guru yang merasa dirinya lebih pintar atau lebih hebat (padahal hanya mampu menghapal istilah yang tidak ada gunanya) menjadi lebih sombong, para murid saling bersaing (dalam hal ini negatif), beberapa orang pada akhirnya tidak memiliki sikap mental yang baik.

Sebenarnya apakah ini semua benar seperti yang diinginkan oleh Buddha?

Saya yakin, dengan pasti hal ini semua tidak diinginkan oleh Buddha, sebab Buddha menyebarkan ajaran Beliau demi kebahagiaan semua mahluk dengan cara melenyapkan (paling tidak mengurangi ego) tidak ada kaitannya dengan kecerdasan ........ bahkan dengan kemampuan menghapal bahasa2 asing.

Jika pedidikan Buddhis hanya menghasilkan orang yang cerdas namun tinggi hati, sombong dan egois bukankah hal tersebut menjadi semakin menjauhkan kita sebagai pengikut dengan hasil yang diharapkan oleh Buddha itu sendiri.

Saya hanya bermimpi melihat para pengikut Buddha menjadi orang2 yang semakin mendekati harapan beliau. Menjadi orang yang terbuka, ramah dan apa adanya, ceria dan bahagia. Karena setiap saat akan selalu ada orang yang berganti agama (yang sebetulnya mereka tidak mengubah agama, karena pada dasarnya mereka tidak mengerti sama sekali apa yang diajarkan oleh Buddha), penyebabnya adalah agama Buddha sulit (sekali lagi masalah bahasa, dan sikap).

Sepantasnyalah kita yang mengaku sebagai pengikut Buddha untuk mengerti dan memahami harapan beliau terhadap hidup manusia pada khususnya dan semua mahluk pada umumnya. Buddha bukan saja berharap dapat melenyapkan penderitaan fisik (yang bukan menjadi akar masalah) melainkan melenyapkan akar dari penderitaan batin kita yang berwujud kebencian, keserakahan dan kebodohan batin (egoisme, kesombongan, iri hati, pengakuan diri dll)

Dalam satu sisi kita memerlukan orang-orang Buddhis yang cerdas, akan tetapi lebih penting lagi jika kita memiliki orang-orang Buddhis yang benar-benar sesuai dengan harapan Buddha