Jumat, 19 Februari 2010
Jumat, 12 Februari 2010
Buddhism

sejak benar-benar mengaku sebagai pengikut Buddha, saya suka dan senang sekali memperhatikan para pengikut yang lain. Terutama sekali adalah para guru yang mengajarkan ajaran Buddha dan juga para murid-murid sekolah yang mati-matian berusaha mendapatkan nilai baik dari pelajaran agama Buddha di sekolahnya.
Tidak sedikit keluhan yang didengar mengenai pembelajaran yang diterima di sekolah, maupun sikap dari para guru, tokoh, dan pengurus organisasi yang mewakili agama Buddha.
Mulai keluhan murid yang harus menghapal bahasa yang sama sekali tidak dimengerti (pali, sanskrit, kadang china) sampai orang tua yang bingung dengan bagaimana mengajarkan bahasa yang mereka sendiri tidak mengerti, juga dengan pihak organisasi yang sepertinya tidak peduli dengan anak2 mereka.
Juga ada lagi keluhan mengenai sikap organisasi yang terlalu pasif, kadang sangat aktif, kadang tidak jelas aturan mainnya.
Yang menarik bagi saya adalah mengenai pengajar agama Buddha dengan sikap mereka dan materi yang diajarkan, beberapa bahkan memiliki sikap2 yang sebetulnya tidak pantas dikatakan sebagai guru agama. Ada lagi adalah kriteria keberhasilan atau tingkat kesuksesan seorang siswa di sekolah. Sampai sekarang kriterianya adalah mampu atau tidaknya menghapal bahasa dan istilah-istilah asing (pali, sanskrit dan kadang china).
Efek samping dari situasi tersebut adalah sering kali seorang guru yang merasa dirinya lebih pintar atau lebih hebat (padahal hanya mampu menghapal istilah yang tidak ada gunanya) menjadi lebih sombong, para murid saling bersaing (dalam hal ini negatif), beberapa orang pada akhirnya tidak memiliki sikap mental yang baik.
Sebenarnya apakah ini semua benar seperti yang diinginkan oleh Buddha?
Saya yakin, dengan pasti hal ini semua tidak diinginkan oleh Buddha, sebab Buddha menyebarkan ajaran Beliau demi kebahagiaan semua mahluk dengan cara melenyapkan (paling tidak mengurangi ego) tidak ada kaitannya dengan kecerdasan ........ bahkan dengan kemampuan menghapal bahasa2 asing.
Jika pedidikan Buddhis hanya menghasilkan orang yang cerdas namun tinggi hati, sombong dan egois bukankah hal tersebut menjadi semakin menjauhkan kita sebagai pengikut dengan hasil yang diharapkan oleh Buddha itu sendiri.
Saya hanya bermimpi melihat para pengikut Buddha menjadi orang2 yang semakin mendekati harapan beliau. Menjadi orang yang terbuka, ramah dan apa adanya, ceria dan bahagia. Karena setiap saat akan selalu ada orang yang berganti agama (yang sebetulnya mereka tidak mengubah agama, karena pada dasarnya mereka tidak mengerti sama sekali apa yang diajarkan oleh Buddha), penyebabnya adalah agama Buddha sulit (sekali lagi masalah bahasa, dan sikap).
Sepantasnyalah kita yang mengaku sebagai pengikut Buddha untuk mengerti dan memahami harapan beliau terhadap hidup manusia pada khususnya dan semua mahluk pada umumnya. Buddha bukan saja berharap dapat melenyapkan penderitaan fisik (yang bukan menjadi akar masalah) melainkan melenyapkan akar dari penderitaan batin kita yang berwujud kebencian, keserakahan dan kebodohan batin (egoisme, kesombongan, iri hati, pengakuan diri dll)
Dalam satu sisi kita memerlukan orang-orang Buddhis yang cerdas, akan tetapi lebih penting lagi jika kita memiliki orang-orang Buddhis yang benar-benar sesuai dengan harapan Buddha
Langganan:
Postingan (Atom)