Minggu, 23 Juni 2019

I Change

I was born in traditional family, but my father is a moslem, he never really a moslem, never pray, because he was force to be moslem in 1965. My mother not only a house wife, she own a tailor with 3 employee, and sometimes did catering business, lately when I was 7 years old my mother join Christians with my aunt, and I become a Christian also, because public school only accept 2 religions, Islam or Christian.
I become very diligent Christian back then, every Sunday almost never miss go to church, at the age of 11 I learn how to play guitar only to help church when they have seervice. At the age 13 I move to other church, start with teenage group service every Saturday, but that time I was not only go to church on Saturday and Sunday only, on Tuesday I go for bible study or catechism, on Wednesday I helped play guitar at Family Service, on Thursday teenagers have sports usually volley ball or ping pong, on Friday I helped Father's day service, Saturday is teens service, and Sunday in the morning help public service, and Sunday school, and the afternoon also. In a week I went to church more than 7 times.
This continue till 1994, I have time that years, finishing my high school study, and want to apply to university, so I read bible from the start, learn again about Christianity from the scratch. And the conclusion quite surprising
I read about Buddhism, why so different, so old and ancient. At first glance I thought this kind of out of date teaching, and I thought useless. But I can feel the different about person who practice it (not a common Buddha followers). So I study more about Buddhism.
I found out that Buddhism have very different purpose, and different way to achieve that. these things make me learn and compare my own religion with Buddhism. I read bible thoroughly, so that I have comparison for new religion teaching.
Basically Christian teach that divine happiness achieve after death, but Buddhism said divine happiness achieve divine happiness while we are alive. How to achieve it in Christian is from total believe and total submission to the God, but in Buddhism it's all about self effort and how total in your practice daily.
From that practice, I think for Buddhist much more easy to get proof or evidence about final achievement from religion practice, because for christian you need to die first, then you will know what will happen to you. I don't like gambling at all, especially about life achievement.
From 1994 till 1999, research about Buddhism practice, at last that very moment, I decided to be a Buddhist, and start practice, maybe my practice not perfect but I try.Image result for buddhism logo

Senin, 27 Februari 2017

Meditasi apapun

Suatu hari seorang Romo pandita bertanya kepada Bhikkhu Thittaketuko thera. "bhante seandainya sewaktu meditasi ada satu bentuk pikiran atau ingatan muncul dan mengganggu, apa yang mesti kita lakukan?" bhante menjawab, "bisa lepas tidak Dari hal tersebut?"
"setiap habis lepas dia selalu kembali!".
"jadi setiap meditasi dia muncul? "
"Iya bhante"
"kalau begitu berenti meditasi dan lakukan kegiatan sehari2, karena berhenti meditasi juga sama dengan belajar melepas."

Walaupun Bhikkhu thittaketuko thera berdedikasi dengan metode vipassana dari Mahassi Sayadaw. Beliau memiliki prinsip latihan 4 tahap, 1 TAHU apa yang terjadi, 2 SADAR hal tersebut, 3 MENGERTI hal tersebut lenyap, 4 LEPAS biarkan hal tersebut tetap berada di masalalu, jadikan pengalaman tapi tidak terikat dengan perasaan.

Kamis, 01 Oktober 2015

kekeliruan mengenai Buddhism

Buddhism, yang diajarkan oleh pertapa Gautama bukanlah suatu agama, atau ilmu yg harus diyakini secara membuta.

sebagai contoh, jika berbicara karma (atau kamma seperti orang theravada fanatik), sejatinya karma dalam ajaran yg Buddha bicarakan memang sama persis seperti salah satu aliran Brahmanisme dijamannya, akan tetapi, tujuan akhir yang Buddha maksudkan adalah bertujuan untuk melenyapkan kesedihan, kekecewaan dan penderitaan batin yang diakibatkan oleh situasi yang sedang dialaminya.

pemahaman anicca dukkha dan anatta, merupakan salah satu pemahaman puncak dalam Dharma yang Buddha ajarkan, namun pada saat seorang pemuda hendak menanyakan tentang filosofi ajaran tersebut, Buddha sendiri terdiam, sampai-sampai Ananda sendiri menanyakannya, mengapa beliau diam, bukankah anicca dukkha dan anatta merupakan kesunyataan, Buddha berkata bahwa seandainya beliau menjawab, maka hal tersebut akan menjerumuskan pemuda tersebut kepada siklus penderitaan. Mengapa? karena pengertian anicca, dukkha, dan anatta yang beliau ajarkan bertujuan mengubah sikap mental pengikutnya menjadi tidak egois (selfish-less) sehingga mampu mengembangkan karakteristik manusia yang mampu menempatkan kasih sayangnya dengan bijak terhadap semua mahluk.


Jumat, 04 Juli 2014

life will never easy

kehidupan itu gak akan pernah bertambah mudah, yang ada malah akan bertambah sulit, dan makin sulit, oleh karena itu otak harus diputar, dan tidak diam untuk maju

Kamis, 31 Oktober 2013

mimpi yang membawa dejavu

Hari ini menonton  film Thor ke-dua, lumayan sangat drama dengan perpaduan aksi pertempuran yang bagus. apalagi dengan penampilan seakan-akan menghancurkan kota yang dibuat oleh digital imaging yang sangat halus, benar-benar memuaskan mata.

Namun hal itu terjadi lagi ketika adegan nyaris penutupan film, merasa pernah mengalami hal tersebut, hal yang terjadi untuk kedua kalinya. Iya pernah mengalaminya dalam mimpi, penyakit lama yang sudah tidak pernah dialami sekitar 5 tahun berjalan.

Waktu kecil hal ini dianggap menyenangkan karena bisa mengetahui apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang, namun menjadi menjengkelkan, karena hal ini mulai menjadi mengganggu.

Akan sangat menyenangkan bila bisa mengatur kapan hal itu akan terjadi, namun semua terjadi begitu saja, mengulangi apa yang telah ada.

Sejak kapan? Pertama kali aku ingat adalah ketika aku kecil, masih suka main kejar-kejaran, sekitar umur 6-7 tahun, dan mulai nyaris setiap mimpi menjadi kenyataan, dan kadang bisa menyadari kalau sedang mimpi (mimpi jenis ini tidak bisa jadi nyata) dan kalau tahu hal ini adalah mimpi maka bisa diatur keadaan mimpinya, bisa jadi pahlawan super.... konyol memang.

Seandainya ada orang yang bisa membantu untuk membereskan hal ini (melenyapkan hal ini) aku akan sangat berterima kasih, namun sampai saat ini belum ada yang mampu untuk menolong.

Tidak tahu apa penyebabnya, tidak tahu harus bagaimana dan mengendalikannya.

spiritualitas yang dijadikan iklan

tidak berani banyak bicara, tapi seharusnya kegiatan pindapata adalal pelatihan bagi bhiksu untuk belajar menerima apa adanya, dan bagi umat adalah belajar untuk bersikap murah hati dan mudah memberi. namun jika iklan juga masuk dalam kegiatan tersebut, tujuannya menjadi bias

Kamis, 10 Oktober 2013

hurt inside, please make me wiser

seringkali menjadi miskin harus banyak menelan ludah kepahitan, namun itulah adanya dan kenyataannya. Hari ini lengkap setahun aku berjalan di bumi ini tanpa jubah bhiksu melindungiku.

berencana untuk berkeluarga memang tidak mudah apalagi setelah melihat bahwa orang yang disayangi sudah mengirimkan undangan pernikahannya bulan depan. walau dalam teori filsafat banyak mengatakan bahwa kita harus ikut bahagia jika orang yg dicintai berjalan dengan yang lain, namun kenyataannya hati berkata tidak, aku menderita.

hal ini banyak faktor yang menyebabkan, namun penderitaan seperti ini tidak bisa muncul begitu saja, bahkan tidak dengan meditasi. akan hanya menjadi pelarian semata jika kita menganggap meditasi dapat melenyapkan penderitaan.

yang dibutuhkan sesungguhnya adalah suatu kebijaksanaan yang tepat, bukan tinggi, dalam maupun mulia dan indah. kebijaksanaan walaupun adalah suatu bentuk pemikiran, yang bisa jadi datangnya dari kejadian sehari-hari, bisa dengan kata-kata sederhana, maupun kata-kata yang indah, kadang dari kejadian yang kita tidak duga.

hal yang paling penting di sini adalah membuka hati kita pada saat kebijaksanaan itu hadir datang menghampiri kita.

kebijaksanaan tidak bisa dilatih, namun faktor-faktor penunjangnya bisa dikembangkan, seperti kelapangan hati dengan belajar mendengar, ketenangan dengan doa dan meditasi, sadar diri dengan mawas diri. pada saat faktor-faktornya matang, otomatis kebijaksanaan dapat muncul. dan tidak akan ada satupun yang dapat menghalanginya...

ganbatte kudasai