Minggu, 20 Juli 2008

Taman Hati


Ada seorang praktisi ZEN yang sangat sayang terhadap tamannya, menurutnya tamannya sangat indah. Beliau merawat tamannya dengan sangat sempurna, setiap saat ia perhatikan dan rawat dengan sangat detail, di setiap titiknya.

Di lain tempat, ada sebuah Biara dengan sebuah taman yang sangat ramai dikunjungi oleh orang banyak. Bukan sedikit orang yang memuji keindahan taman tersebut, ada yang menyebutnya indah, menyejukan, bagus, bahkan menangkan batin.

Sudah lama sang ahli taman ingin melihat taman yang menjadi 'saingannya' tersebut, hanya saja dia khawatir apa bila daun daun yang rontok jatuh tidak pada tempatnya; ia khawatir jika tamannya menjadi tidak sempurna.

Lama kelamaan, akhirnya ia tidak tahan lagi, rasa penasarannya mengalahkan dirinya. Ia pun memutuskan untuk mengunjungi taman tersebut.

Ia sangat terkejut melihat taman tersebut, menurutnya taman miliknya tidak kalah dibandingkan dengan taman; dan lebih terkejut lagi banyak sekali orang yang berada di taman tersebut. Ada yang berlalu lalang, duduk berduaan, bermain kecapi, bermain catur, membaca buku dan lain sebagainya.

Akan tetapi setiap ia bertanya kepada orang yang ada di sana, mereka kagum terhadap taman tersebut, yang menurutnya sama saja dengan taman miliknya.

Dengan rasa heran ia mencari perawat kebun tersebut, dan menemukan seorang bhiksu tua yang menjadi tukang kebunnya, serta ia bertanya, "Guru mengapa orang menganggap taman ini istimewa? Bagai mana cara guru merawat taman ini, sampai orang terkagum-kagum dengan tempat ini?".

Bhiksu tua itu menjawab, "Cara saya merawat, saya hanya menyapunya, pada saat perlu menyapu, memotong ranting pada saat perlu memotongnya, menyiramnya pada saat pepohonan perlu disiram dan....", "ITU KAN CARA BIASA MERAWAT KEBUN!!???" sela si ahli taman. Lalu bhiksu tua itu melanjutkan jawabannya, "hmmm, Oo ada satu hal penting.... saya hanya diam, mengamati dan tersenyum kepada setiap orang yang masuk, mengganggu dan kadang merusak pepohonan yang ada ditaman".

Sang ahli taman terkesiap, mengucapkan terima kasih dan pergi; tanpa mampu berkata sepatah katapun. Satu hal yang paling ditakuti adalah tamannya menjadi rusak karena orang-orang yang berdatangan.

1 komentar:

Khaidi Wong mengatakan...

Moral of the story: supaya suatu taman itu indah, carilah pengunjung sebanyak-banyaknya???