Suatu hari di padepokan kami datang seorang pertapa muda yang baru turun gunung. Ia menimba ilmu dari negeri sebrang. Berbagai ilmu ia dalami, mulai dari ilmu kanuragan (kesaktian), ilmu kebijaksanaan sampai ilmu hidup dan mati.
Walaupun masih muda namun ia bisa dikatakan mampu mengajar, dan dipercaya oleh gurunya untuk memberikan bimbingan maupun nasihat bagi orang yang mau bertanya kepadanya. Maklum belajar di negri sebrang yang sudah terkenal mumpuni padepokannya dalam menelurkan pertapa-pertapa canggih nan keren.
Sang pertapa muda ini mempunyai seorang kenalan yang cukup baik dan sejak lama sering bertukar sapa, bertukar pikiran, berdiskusi. Oleh karena itu walaupun mereka tidak tinggal dalam satu padepokan namun mereka mampu tetap berkomunikasi berkat kemampuan mereka dalam olah kanuragan, terutama kanuragan dalam mengolah messenger di komputer.
Pada mulanya percakapan jarak jauh mereka dengan kanuragan berjalan dengan lancar-lancar saja. Sering kali sang pertapa muda bertanya kepadanya, “Hi lagi sibuk apa?” biasanya sahabatnya menjawab kegiatan yang sedang dilakukannya…
“Hi sedang sibuk apa nih?”, jawab sahabatnya. “Biasa sedang berdo’a”, “wah hari begini masih berdo’a? mungkin yang seharusnya dilakukan adalah tapa atau meditasi lhoo” jawab pertapa muda”…”oh iya yah, harus begitu yah?” jawab sahabatnya. “harusnya begini……” dan pertapa muda pun meneruskan nasehatnya.
Di lain kesempatan, “Oi, lagi sedang apa sekarang ini?” Tanya pertapa muda. Jawab sahabatnya, “ooo, sekarang lagi di mall sedang cari barang nih, keliling-keliling, belum ketemu juga...”. “hehehe, mending cari barang di mall atau mencari batin sendiri...?”. “heh??? Bener juga kali????”. “bingung yah? Mungkin kurang banyak mendengar ceramah sih....” dst (dan saya tjapeeeeeeee)
Kejadian lainnya, “Ehem, sibuk apaan nih?”... dan seterusnya, rasanya tidak perlu diteruskan, hal tersebut berulang-ulang terjadi, sampai sahabatnya menjadi merasa semua yang diperbuatnya selalu saja ada salahnya, dan muak akan hal itu...
Oleh karena itu, setiap kali ia disapa oleh pertapa muda belakangan ini ia hanya menjawab dengan senyuman yang ia kirim melalui kanuragan Yahoo Messenger.
Pikir dipikir, siapa yang salah?
Pertapa muda kalau diperhatikan dia tidak salah, ia berharap sahabatnya agar menjadi orang yang ‘sebijaksana’ dirinya. Tetapi jika ditelaah dari sudut sang Sahabat, ia tidak menginginkan dirinya menjadi orang lain.
Pertapa muda mempunyai tanggung jawab untuk membimbing setiap umat yang dirasa memiliki potensi untuk lebih maju lagi, jika dilihat dari sisi gurunya. Setiap orang memiliki potensi memang benar, akan tetapi jika tidak memiliki kemauan atau keinginan ke arah itupun rasanya percuma saja jika dipaksa... pandangan ini pun tidak ada salahnya.
Jadi yang salah siapa?
Siapa yang salah?
Yang salah yah SAYA sendirilah, ngapain juga ngurusin mereka berdua, yang pasti dipikirkan pun gak akan ada ujungnya, sebab yang pasti. Mereka adalah mereka.
Pertapa muda adalah pertapa muda,
sang sahabat adalah sang sahabat, hahahahaha
AKU ADALAH AKU WAKAKAKAKAK
2 komentar:
hmmmm....
buat apa mengurusi sesuatu yang ga ada ujungnya yah... hehe...
menghabiskan pikiran saja, bikin cape, hehe...
jadi teringat teman saya yang suka ikut campur urusan orang lain... hehehe
semoga banyak yang sadar dan jadi ga menghabiskan waktu hanya untuk mengurusi urusan orang lain yang ga jelas ujungnya, hehe
Haduh, saya juga salah... Salah pilih bacaaan, wakakakaka...
Posting Komentar