Hidup sebagai pertapa yang biasanya menyenangi kesunyian, menjadi sangat sulit di kala kesunyian lenyap.
Pada saat hati menyukai suara alam, menjadi bergejolak saat alam mulai lesap ke dalam bisingnya kendaraan.
Aku berjalan di hutan beton, menghadapi hewan buas yang nafasnya menyemburkan keserakahan, bertanduk persaingan, dan berkulitkan sisik ke-egoisan.
Kadang tertunduk lesu kalah dalam pertarungan, antara ego dan aku.
Musuh terbesar dalam kehidupanku sendiri.