
Banyak orang yang kaget ketika aku bicara kepada orang lain, “Saya sudah berhenti percaya kepada TUHAN, karena banyak orang yang memanipulasi sebutan tersebut”. Orang mengira saya sudah atheis, dan berhenti menjadi orang bajik.
Saya bukan tidak percaya, melain kan saya sudah tidak perduli lagi tentang eksistensi tuhan; baik TUHAN itu ada ataupun tidak toh buat saya tidak lagi menjadi suatu yang sangat penting. Saya tahu persis, yang membuat orang menjadi baik bukanlah TUHANnya melainkan hatinya. Dan dengan konyolnya orang-orang berkata, orang itu menjadi baik karena TUHAN, hahaha, padahal istilah TUHAN (dalam berbagai bahasa) itu diperkenalkan hanya beberapa puluh abad belakangan saja.
Manipulasi istilah TUHAN terjadi dalam berbagai agama. Demi kepentingan siapa? Hanya tokoh-tokoh dan orang-orang yang hidup dari agama saja. Demi tujuan menghalalkan segala cara demi keuntungan yang sifatnya benar-benar sekuler, seperti harta, harkat, martabat dan kekuasaan.
Saya melihat dalam kitab suci agama kristen tentang doa, saya melihat suatu situasi lucu, yang sesungguhnya bertentangan dengan ajaran kristen.
Ada seorang kristen bermasalah dengan sahabatnya (setiap orang pasti pernah bertengkar) terlepas orang ini kristen atau tidak, beragama atau tidak. Si kristen menyadari bahwa dia marah, telah mengutuki dan menurut agama manapun (kalau agama itu benar) marah serta mengutuki adalah salah dan salah adalah dosa. Si kristen ini merasa berdosa tentunya karena telah marah terhadap sahabatnya. Yang mungkin dilakukannya pertama kali adalah dia berdoa meminta maaf kepada TUHAN, kemungkinan kedua adalah MASUK KE BILIK PENGAKUAN DOSA seperti biasanya pendetanya mengatakan dosamu diampuni.
Hal ini umum, namun saya melihat satu bagian dari DOA BAPAK KAMI, yang mengatakan “ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” saya menerjemahkan bagian ini dengan cara yang berbeda. Saya melihat ayat ini berarti kita harus memaafkan dahulu dengan orang yang bermasalah dengan kita. Atau bahkan meminta maaf terlebih dahulu (utk saya terlepas siapa yang salah, seandainya hati kita lebih besar).
Kita harus menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya di depan kita. Seandainya kita minta maaf atau pengampunan kepada TUHAN pasti 100% akan dimaafkan. Karena TUHAN diam gak pernah bicara dan berpihak. Tetapi jika kita selesaikan perselisihan, dan dosa kita di depan orang tersebut niscaya tanpa meminta pasti akan diberikan maaf
Permasalahannya kalau memang kita mampu menjalankan kitab suci, gak usah deh catut nama TUHAN untuk menunjukan bahwa diri ini benar. Sebab seandainya kita mau meminta maaf terhadap orang yang sedang bermasalah, atau seandainya kita adalah orang yang benar-benar orang baik, MASAK SIH TUHAN MENGABAIKAN KITA. Buat saya orang memuji TUHAN SETINGGI APAPUN sesungguhnya hanya menerjemahkan eksistensi TUHAN dengan otak kecil kita. Merupakan penghinaan bagi diri manusia itu sendiri, juga bagi ‘TUHAN’ yang disembahnya.
Solusi bagi saya adalah, be good, be happy, be calm, and spread love n kindeness. Biarkan kebajikan kita sendiri menjadi hakim bagi diri ini. Kebenaran sejati tidak pernah berpihak, kebijakan palsu hanya berpihak pada yang memiliki kuasa.
So, as I often say that, “sorry GOD, I don’t believe in YOU”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar